3 RESIKO UTAMA YANG HARUS DIWASPADAI OLEH PETERNAK PUYUH

Dunia Puyuh


----bisnis itu bukan soal berapa banyak mengumpulkan keuntungan, tapi seberapa kuat kau bertahan saat badai dan topan menerjang----


Saat harga telur sedang "on fire" seperti sekarang sudah pasti akan ada banyak orang baru yang ingin menguji keberuntungan di ternak puyuh. 


Bagaiamana tidak, lha wong ternak puyuh 1000 ekor saja sehari bisa dapet 50-70 rebu. 


Padahal kerjanya cuman segitu. Waktunya cuma setengah jam lebih sedikit. Maka aduhai menggodanya ternak puyuh itu. 


Soal nyanyi dan ngopi2 manis tak perlu dibahas disini. Karena menghabiskan uang tidak butuh ijazah dan sekolah yg panjang. 


Kenapa sekolah itu ada?? Ya jawabnya bermacam. 


Bisa karena budayanya harus demikian. Karena nggak sekolah kan hanya akan jadi sasaran gibah tetangga dan kawan. 


Bisa jadi juga sekolah karena demi mencerdaskan prikehidupan berkebangsaan. 


Meskipun setelah menjadi cerdas bangsa yg diharapkan itu malah malak kesana kemari dengan istilah yeng dikeren-keren kan, yaitu perpajakan.


Bisa jadi sekolah itu ditunaikan demi untuk mengejar impian pribadi yang tinggi setinggi Bintang. 


Jadi sasaran gibah, dipalak pajak dan juga cita-cita itu adalah resiko jika kita tidak demen sekolahan. 


Beternak puyuh persis seperti itu juga. Ada resiko yang dihadapi. 


Dan inilah 3 resiko utama yang perlu diwaspadi oleh para peternak puyuh sejak zaman Nabi sulaiman sampai sekarang:


1. Resiko Mortalitas

Dibanding dengan unggas lain puyuh memang lebih rapuh. 


Secara statistik, pada akhir periode produksi (afkir) burung puyuh paling Bagus hanya tinggal 70% dari total populasi. 


Sementara bebek bisa 95% dan ayam bisa 90%.


Tapi resiko mortalitas itu nggak berarti gk bisa diatasi sih. Bisa. Dengan cara menekan penyebab kematiannya. 


Kalau sebab matinya karena bakteri, maka ya jauhkan pembawanya. Hadang cariernya masuk ke kandang. Karantina yang sakit dan Obati segera dengan obat yang ada disekitar anda. 


Kelau sebab matinya karena patah hati, nah itu yang beneran repot ๐Ÿ˜…


2. Resiko Harga 

Mengenali apa yang kita jual adalah salah satu cara terbaik mengenali resiko bawaanya. 


Dalam struktur kebutuhan hidup manusia dikenal istilah bahan pokok, bahan pelengkap, pendamping dan pengganti. 


Yang termasuk bahan pokok seperti yang kita mafhumi adalah mereka yang termasuk dalam beras, umbi, dan jagung. 


Sementara pelengkap adalah sayur mayurnya. Pendampingnya adalah kamu. iya, kamu...mau nggak kamu jadi pendamping hidupku?? ๐Ÿ˜


Termasuk masakan pelengkap itu adalah mereka yang mengandung protein. Baik itu protein nabati dan hewani. 


Nah, telur puyuh termasuk dalam bahan pendamping. Itupun stratanya berada dibawah crazy rich di bangsanya. Yaitu Telur Ayam. 


Sebagaimana mestinya bahan pendamping, maka tentu saja secara regulasi telur puyuh lebih rawan jeblog. Karena iya menjadi anak tiri di kalangan para telur lain. 


Jadi wajar jika pada Puncak populasi, ketika telur puyuh membanjir, harga jualnya hancur lebur. 


3. Resiko Aratan

Inilah Puncak resiko yang menumbangkan banyak peternak, even itu ternak kawak atau malah cuma pemula yang cobak-cobak. 


Aratan dalam sekenario ekonomi disebut dengan moral hazard. Dalam sekenario sulap disebut debus. 


Karena jumlah puyuh yang segambreng bisa hilang sekejap hanya dengan abrakadabra. 


Maka, wajar jika dari tiga resiko utama beternak puyuh diatas resiko inilah resiko yang paling ditakuti. 


Karena aratan adalah konsep industri malaikat pencabut nyawa yang paling mengerikan. Lebih mengerikan dari pada mati dirumah mantan๐Ÿ˜‚


Salam Cinta dan Sayang

DUNIA PUYUH

085790380475

Tidak ada komentar

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();