AVEROZ DAN HIPOTESA KEMANDIRIAN BETERNAK

Harga telur, jual telur puyuh, harga telur puyuh, telur puyuh murah
Salah satu peninggalan penting dalam sejarah peradaban manusia itu dibanding  dengan makhluk lain adalah hasil pikiran. Entah itu dalam bentuknya yang tertulis, terkarya, ataupun sekedar ide.

Itu kenapa salah satu prinsip terpenting dalam hajat hidup manusia menurut al-Ghozali dalam maqosid syariah adalah hifdul Aql. Atau penjagaan akal. Atau dalam iklim demokrasi sekarang biasa disebut state Of mind.

Kenapa begitu? Karena manusia mampu menciptakan tidak hanya dengan bakat dan naluri saja, akan tetapi atas dasar kreatifitas. Itu kenapa jika kita perhatikan, hanya di peradaban manusia ada kapal terbang, kapal selam, dan juga netizen yang sok tau ­čśé. Kalau di peradaban makhluk lain mah boro2 ada ikan yang sain kanan tapi beloknya kekiri, sebab sifatnya mereka memang tunduk dan patuh pada naluri masing2.

Dan salah satu dari sekian pemikir yang pernah menghiasi jagad pikir manusia, yang menarik perhatian saya kali ini adalah averoz. Atau dalam bahasa arab disebut dengan ibnu rusyd.

Averoz dalam salah satu bukunya yang berjudul Bidayatul Mujtahid Wa nihayatul muqtashid menjelaskan terntang arti penting sebuah proses dalam menuju kemandirian berpikir dalam beberapa etape.

Dalam konsepsi Fiqh sendiri, kemandirian dalam berfikir dan merumuskan konsep hukum itu dibagi menjadi beberapa fase yang disebut dengan mujtahid. 

Konsep mujtahid ini menurut saya cukup pas diterapkan dalam segala hal, karena selama masih dalam alam pikir, manusia selalu dituntut untuk menuju kemandirian, pun pada peternakan puyuh.

1.MUJTAHID MUTHLAQ MUSTAQIL (Independent Creator)
Pada fase ini seorang creator dituntut untuk independent dalam arti yang sebenar-benarnya. Tidak hanya dalam menyimpulkan sebuah hepotesis, tapi juga metode pengujiaanya.

Kalau dalam persilangan kita ibaratkan dengan pembuat strain. Seorang mastah, dituntut tidak hanya bisa membuat jenis baru puyuh, akan tetapi juga dituntut tahu tentang strain ciptaanya. Termasuk diantaranya, apakah umurnya menjadi semakin panjang, apakah daya tubuhnya lebih strong, apakah tidak gampang stress, apakah jenis telurnya besar tapi maha irit di pakan dan seterusnya.

Seorang mujtahid mustaqil atau mastah tentu mereka yang mampu melampaui tidak hanya perkara ACS, tp juga bisa memecahkan problem peternak pada umumnya.

2. MUJTAHID MUTHLAQ GHOIRU MUSTAQIL (Unindependent Creator)
Tingkatan kedua ini dibawah mastah, mereka kita sebut Suhu. Mereka ini adalah kelompok pelestari. Bisa menciptakan strain (galur) akan tetapi masih terikat dengan metode pendahulu2nya.

Mereka itu adalah kebanyakan dari penetas masyarakat yang sekarang ada. Bisa membuat galur tapi belum mampu memecahkan problem yang ada dimasyarakat.

Ada yang memecahkan keluhan tentang tubuh yang bongsor. Tapi minim di daya ketahanan tubuh. Akhirnya gampang mati.

Ada yang ingin mencoba memecahkan pada pakan yang irit. Tapi saking iritnya telur jadi terlalu enteng. Kalau di kalkulasi masih jebol juga di BEP minimum.

3. MUQOLLID (Follower)
Tingkat paling akhir diantara para penjaga akal pikir adalah seorang muqollid.

Mereka ini tidak mampu memahami alam pikir seorang suhu dan mastah. Biasanya modelnya saklek.

Ciri-ciri umunya mereka ini lebih banyak tanya, bicara, komentar dan sedikit bahkan malas praktek.

Tapi mereka ini masih terbilang cukup on the track. Karena mereka masih memperhatikan apa itu bio security, apa itu SOP beternak, dan manajemen lain dalam rantai jaringan bisnis pemasaran.

Karena dibawah mereka ada lagi yang lebih kacau.

Mereka adalah sejenis alam berpikir yang maunya enak doang. Yang taunya dikit2 berapa cuan yang akan didapatkan.

Padahal, dalam bisnis apapun, termasuk peternakan, mereka yg berhasil adalah mereka yang paling berhasil mengatasi kekurangan dan kerugian yang mengancam. Bukan yang selalu berpikir tentang keuntungan2 itu... 

Kalau kamu termasuk yang mana??? 

SALAM CINTA DAN SAYANG
DUNIA PUYUH
PUSAT KEMITRAAN BETERNAK PUYUH BLITAR
085790380475

Tidak ada komentar

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();